Pages

22/10/2009

Meretas Jalan Menuju Mahasiswa/Pelajar Muslim yang Sukses

         Sahabatku..!!! sukses dapat diartikan sebagai keadaan tercapainya tujuan atau cita-cita. Lawannya adalah gagal, yaitu keadaan tidak tercapainya suatu tujuan atau cita-cita. Sukses di sini masih memiliki arti umum, dalam arti bisa bernilai benar atau salah, tergantung pada pandangan hidup yang mendasari perumusan tujuan dan standar yang digunakan untuk menilai suatu kesuksesan dan kegagalan. Seorang pencopet misalnya, dapat dikatakan sukses bila dia berhasil mengambil dompet atas tas sasarannya. Sementara seorang penjual, dikatakan sukses bila mendapat keuntungan yang berlimpah. Jadi, “sukses” tidak selamanya identik dengan “benar”. Bisa saja seseorang merasa sukses, namun sebenarnya dia tidak berada di atas kebenaran. Dengan kata lain, hakikatnya dia telah gagal. Yang harus dicari adalah kesuksesan yang sejati, yaitu kesuksesan yang berada dalam jalur kebenaran. Ini hanya terwujud bila seseorang mencapai suatu tujuan yang didasarkan pada pandangan hidup dan standar yang benar. Dan di samping itu, kesuksesan itu harus diraih dengan cara yang benar pula, bukan dengan sembarang cara. Karena amal yang baikl (ahsanul amal) hanya akan diteima oleh Allah dengan 2 syarat. 1. Niat yang ikhlas dan ke-2. Cara yang benar (sesuai hukum syara’). Jadi, kesuksesan yang diraih lewat jalan yang tidak benar, sebenarnya adalah kesuksesan yang semu dan palsu, bukan kesuksesan yang hakiki.

       Demikian pula kiranya dengan dunia mahasiswa/pelajar. Tatkala seseorang ingin menjadi mahasiswa/pelajar yang sukses dalam kuliah/sekolahnya maka pertanyaan kritis yang harus dijawab adalah, apa tujuan dari kuliah/sekolahnya? Standar-standar serta indikator-indikator apa yang dipakai untuk mengukur tercapainya tujuan itu? Apakah tujuan itu sudah didasarkan pada pandangan hidup yang benar?
Antara Fakta Dan Idealita..!!!

       Sahabatku..!!! Dunia saat ini –termasuk Negeri Muslim-- dicengkeram oleh ideologi kapitalisme, yang berasaskan ide sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Dengan demikian, seluruh aspek kehidupan termasuk juga pendidikan, akan terwarnai dan terpola oleh ideologi asing tersebut. Dalam sebuah sistem kehidupan yang menerapkan atau terpengaruh dengan ideologi ini, sistem pendidikan akan senantiasa bersifat sekuleristik. Pendidikan tidak akan memberikan ruang yang cukup bagi agama, sebab agama bukanlah sesuatu yang penting dalam kehidupan. Agama hanya mengatur hubungan pribadi manusia dengan Tuhan, sementara hubungan manusia dengan manusia lainnya, seperti aspek politik, ekonomi, budaya, tidaklah diatur oleh agama.
Karena itu, dapat dilihat bahwa out put sistem pendidikan seperti ini, hanya akan menjadi manusia yang pandai dalam ilmu pengetahuan, namun dangkal dalam pemahaman agama. Para alumnus sistem ini akan menjadi manusia yang sekuleristik, materialistik, oportunistik, dan individualistik. Dikatakan sekuleristik, karena dia akan meletakkan agama dalam posisi terbatas yang hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya. Sementara aspek interaksi sosial yang luas, dianggapnya tidak perlu diatur dengan agama. Bersifat materialistik, karena tujuan hidupnya hanya mengejar kesenangan duniawi semata, seperti harta benda, jabatan, dan sebagainya, namun lupa akan tujuan akhiratnya. Dikatakan oportunistik, karena cara dia mengukur segala tindakannya adalah berdasarkan manfaat belaka, atau untung rugi, bukan berdasarkan ketentuan halal-haram. Dan bersifat individualistik, karena dia akan menjadi orang yang hanya mementingkan diri sendiri, serta kurang menaruh kepedulian dan perhatian kepada orang lain. Memang manusia seperti ini akan bisa hidup , namun jelas bukan hidup yang benar.

       Dalam sistem sekuleristik seperti ini, sukses tidaknya seorang mahasiswa/pelajar tentunya hanya akan diukur berdasarkan indikator-indikator akademik seperti nilai yang bagus, IPK yag memuaskan, atau menjadi mahasiswa/pelajar teladan dalam bidang akademik, semantara disisi lain kering dari sentuhan nilai dan norma agama. Mahasiswa/pelajar tetap dikatakan sukses setelah dia menyelesaikan studinya dalam waktu sekian tahun, dengan indeks prestasi sekian, meskipun dia dangkal atau bahkan bodoh dalam pemahaman agamanya. Apakah manusia seperti ini yang dikehendaki Islam? Cukupkah kesuksesan mahasiswa muslim hanya diukur dengan indikator-indikator akademik semata yang cenderung sekuleristik itu?

       Sesungguhnya Islam telah menetapkan tujuan dalam sebuah proses pendidikan, yang hanya bisa dicapai bila sebuah sistem pendidikan didasarkan pada ideologi Islam, bukan ideologi kapitalisme seperti yang ada saat ini. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah terbentuknya kepribadian Islam ( Syakhshiyyah Islamiyyah ) yang dibekali dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan (Lihat Muqaddimah Dustur , Taqiyyuddin An Nabhani , hal. 414). Memiliki kepribadian Islam, berarti seseorang mempunyai pola pikir ( aqliyah ) yang Islami, yaitu dia akan menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai standar untuk menilai segala pemikiran yang ada. Di samping itu, dia mempunyai pola jiwa/sikap ( nafsiyah ) yang Islami, yaitu mempunyai kecenderungan perasaan yang Islami dan memenuhi segala kebutuhannya dengan standar Syariat Islamiyah , baik kebutuhan jasmaninya ( al hajat al ‘udlwiyah ), seperti makan dan minum, maupun kebutuhan naluriahnya ( al gharizah ), yang meliputi naluri beragama ( gharizah tadayyun ), naluri mempertahankan diri ( gharizatul baqa' ), dan naluri melangsungkan keturunan ( gharizatun nau' ), beserta segala penampakan ( mazhahir ) yang muncul dari ketiga naluri tersebut.
     
       Adapun ilmu dan pengetahuan yang menjadi bekal hidup, adalah segala jenis ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk kehidupan bermasyarakat, seperti sains dan teknologi beserta segala macam ilmu cabang dan terapannya. Namun demikian, Aqidah Islamiyah harus dijadikan standar dalam hal pengambilan atau pengamalannya. Segala ilmu yang sesuai Aqidah Islamiyah saja yang boleh diambil dan diamalkan. Yang bertentangan dengan Aqidah Islamiyah haram untuk diambil dan diamalkan. Dari segi pengetahuan dan studi, Islam memang membolehkan segala macam ilmu, meskipun bertentangan dengan Islam. Tetapi dari segi pengambilan/pengamalan dan i'tiqad (keyakinan), Islam hanya membolehkan pengetahuan yang tidak bertentangan dengan Islam, bukan yang lain. ( Ibid ., hal. 413).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan:
  1. Pembentukan kepribadian Islam ( Syakhshiyyah Islamiyyah ), dan
  2. Penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan.


       Dari sinilah seharusnya seorang mahasiswa/pelajar muslim menetapkan indikator-indikator kesuksesannya, sebab dia bukan sekedar beridentitas mahasiswa/pelajar, tetapi juga seorang muslim. Identitas keislaman ini tentu tak boleh dia tanggalkan dan hanya sebatas pelengkap identitas kartu mahasiswa/pelajar saja tapi harus senatiasa menyeratai dan menjadi tolak ukur dalam segala kiprahnya di dunia, termasuk kiprahnya dalam menuntut ilmu di Universitas/sekolah.

Kiat Menjadi Mahasiswa/Pelajar Muslim yang Sukses

       Sahabatku..!!! Dari uraian di atas, kiranya jelas bahwa seorang mahasiswa/pelajar muslim yang sukses dapat dicirikan dengan dengan 2 (dua) indikator: Pertama , Dimilikinya kepribadian Islam ( Syakhshiyyah Islamiyyah ), Kedua , Dikuasainya ilmu pengetahuan yang menjadi bidang studinya. Seorang mahasiswa muslim yang sukses, dengan demikian, adalah mahasiswa yang berhasil memiliki kedua indikator tersebut secara bersamaan. Jadi mahasiswa yang hanya menguasai pengetahuan yang menjadi objek studinya, namun dangkal dalam pemahaman Islamnya, hakikatnya adalah mahasiswa yang gagal . (Meskipun menurut ukuran konvensional yang sekuleristik, dia adalah mahasiswa/pelajar yang “sukses”!).

       Untuk memiliki kepribadian Islam, pada prinsipnya seorang mahasiswa/pelajar harus mempelajari Islam secara mendalam. Dia harus menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai landasan berpikirnya, yang dengannya dia dapat berpikir Islami dengan menjadikan Aqidah Islamiyah sebagai standar untuk menilai segala pemikiran yang ada. Dia harus juga menjadikan Syariat Islamiyah –yang lahir dari Aqidah Islamiyah— sebagai standar untuk menetapkan kecenderungan(muyul)nya dan memenuhi segala kebutuhannya. Salah satu karakter muslim yang berkepribadian Islam, untuk konteks sekarang, adalah mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat tak terkecuali mahasiswa/pelajar muslim. Kondisi umat Islam di seluruh dunia yang kini dikuasai oleh ideologi kapitalisme yang kafir, harus membuatnya terhentak dan tersadar dengan keadaran yang penuh dan menyeluruh untuk turut serta dalam proses perubahan menuju kondisi yang Islami. Secara konkret, muslim yang peduli dengan keadaan umat itu akan mengindentifikasikan dirinya sebagai seorang pengemban dakwah ( hamilud dakwah ), sebab metode Islam untuk mengubah kondisi tak Islami menjadi Islami tak lain adalah dengan jalan mengemban dakwah Islamiyah ( hamlud dakwah al islamiyah ).

Untuk menguasai ilmu pengetahuan yang menjadi objek studinya, seorang mahasiswa/pelajar harus sukses secara akademik. Kusman Shadik (1996) memaparkan kiat-kiat praktis untuk mencapai sukses akademik
  1. Kepercayaan Diri

    Sahabatku..!!! Menumbuhkan kepercayaan diri bahwa Anda punya potensi besar untuk meraih sukses di Kampus/Sekolah, merupakan langkah awal yang perlu dimiliki. Kepercayaan diri ini tentunya adalah kepercayaan yang didasarkan pada adanya potensi intelektual yang nyata, bukan kepercayaan diri palsu yang tidak didasarkan pada potensi intelektual yang nyata atau hanya sekedar berdasarkan ilusi kosong. Rasa percaya diri akan berpola positif apabila ditunjang oleh usaha yang gigih agar potensi intelektual yang ada ini dapat teraktualisai secara optimal dalam kegiatan perkuliahan/sekolah.
  2. Kesehatan, Faktor yang kedua yang tak kalah penting adalah faktor kesehatan. Karena itu, suatu hal yang penting diperhatikan adalah masalah kesehatan tubuh. Berupayalah Anda memiliki kesehatan tubuh yang selalu prima agar Anda dapat mencapai hasil optimal dalam menyelesaikan beban kuliah, responsi, dan praktikum. Menjaga kesehatan dapat dilakukan dengan cara rajin berolahraga, mengkonsumsi makanan bergizi, dan beristirahat secara cukup. 
  3. Metode Belajar, Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, maka kita dituntut bukan hanya sekedar “bisa”, tetapi dituntut sampai pada tingkat “memahami”. Sehinga ketika kita dihadapkan pada soal seberat apapun apabila kita telah memahami materi maka insyaAllah kita akan bisa menyelesaikannya. Proses mencapai pemahaman adalah mengkaitkan setiap informasi dengan fakta, atau mengkaitkan fakta dengan informasi. Faktor terpentingnya, adalah informasi. Karenanya, informasi (tentang mata kuliah) harus selalu ditambah. Penambahan informasi selain dari buku wajib dapat dilakukan melalui sarana perpustakaan. Buku-buku yang ada diperpustakaan selain dapat memperluas konsep dasar dari mata kuliah yang bersangkutan juga dapat melatih Anda untuk mengerjakan bentuk-bentuk soal yang biasanya disertakan pada akhir tiap bab. Disamping itu sarana internet dapat juga dijadikan penunjang informasi yang kita butuhkan. Dengan jangkauan yang luas internet dapat dengan mudah membantu kita mencari informasi-informasi yang berkaitan dengan mata kuliah/pelajaran yang kita ambil baik dari dalam maupun luar. Jadwalkan waktu belajar dengan baik dan belajarlah secara teratur, meskipun waktu ujian atau kuiz masih jauh.
  4.  UjianUjian merupakan momen penting yang menentukan keberhasilan mahasiswa/pelajar dalam suatu mata kuliah. Dalam menghadapi ujian perlu diperhatikan beberapa hal berikut:
Perasaan tenang dan percaya diri merupakan komponen utama dalam menghadapi ujian. Hindarkan perasaan stress, gugup, atau gelisah yang hanya akan menghancurkan konsentrasi dan menggerogoti daya berpikir kita yang sesungguhnya. Karenanya, berdoalah yang khusyu' sebelum ujian.
Memantapkan secara sempurna tentang topik yang akan diujikan. Yang ideal, pemantapan atau penguasaan mata kuliah hendaknya dilakukan secara bertahap. Bukan secara dadakan atau instan dengan gaya “SKS” (Sistem Kebut Semalam). Penumpukan informasi dalam volume besar dalam waktu yang singkat sangat tidak efektif dan hanya akan memberikan beban yang berlebihan ( over-loaded ) terhadap otak.
Mengenal lebih dini tentang format soal ujian untuk tiap mata kuliah yang biasanya berbeda-beda antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lainnya. Untuk mengetahui hal ini dapat dilihat pada berkas ujian pada tahun sebelumnya. Hubungan yang baik dengan kakak kelas dalam hal ini tentu akan sangat membantu.

Mempersiapkan langkah teknis ujian akhir dengan baik, seperti KTM, Kartu ujian, pulpen, minimal 2 buah, kalkulator apabila ujian tersebut diperkenankan untuk menggunakan kalkulator. Meskipun sepertinya sepele, namun bila tidak disiapkan secara apik dan cermat, akan bisa mempengaruhi mental kita dalam mengerjakan soal ujian.Semua yang telah disampaikan di atas yang berkenaan dengan kiat sukses dalam meraih prestasi akademik, kiranya dapat dijadikan sebagai bahan masukan agar waktu, tenaga, dan potensi yang ada dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Penutup
Kiranya menjadi mahasiswa/pelajar muslim yang sukses memang merupakan dambaan. Namun sekali lagi perlu diperhatikan benar, apa indikator “kesuksesan” yang digunakan. Jangan sampai Anda merasa menjadi sukses, padahal sebenarnya gagal. Mahasiswa/pelajar muslim yang sukses adalah mahasiswa/pelajar berhasil meraih 2 (dua) hal sekaligus: Pertama, Menjadi muslim yang berkepribadian Islam, dan Kedua, Meraih kesuksesan secara akademik.
Selain itu, seorang mahasiswa/pelajar yang berkepribadian Islam juga dituntut untuk peduli terhadap keadaan umat, dengan jalan turut serta memikul tanggung jawab dakwah Islamiyah demi terwujudnya tatanan umat dan masyarakat yang Islami
by : Tyo_ramadhani
Share artikel ke: Facebook Twitter Google+ Technorati Digg

Artikel Terkait

0 komentar: